Semalam saya dan istri menghadiri syukuran pernikahan Pak Sodiq dan Bu Erwin, bersama dengan kolega lainnya. Tiga puluh tahun, kata beliau, sambil bersama-sama memotong kue yang telah disiapkan. Kami yang baru menginjak dua puluh tahun pernikahan sempat saling pandang. Ada rasa kagum yang sederhana tapi dalam, tiga puluh tahun bukan waktu yang pendek untuk terus memilih orang yang sama.

Malam itu Pak Sodiq dan Bu Erwin sempat bercerita tentang awal-awal pernikahan mereka, ketika harus ikut bertugas sampai ke Nusa Tenggara Timur. Jauh dari kampung halaman, serba terbatas, tapi justru di sanalah katanya mereka belajar banyak hal tentang saling menopang. Ceritanya tidak panjang, tapi cukup untuk membuat kami berdua ikut merenung dalam perjalanan pulang.

Dari situ kita jadi teringat, pernikahan itu sebenarnya bukan sekadar akad yang diucapkan sekali lalu selesai. Ada istilah yang sering kita dengar di ceramah pernikahan, mitsaqan ghalizha, perjanjian yang kuat. Istilah ini disebut dalam surat An-Nisa ayat 21, dan menariknya, ungkapan yang sama hanya dipakai untuk dua momen lain di Al-Qur’an, perjanjian Allah dengan para nabi, dan perjanjian dengan Bani Israil. Ikatan pernikahan kita ternyata disandingkan setara dengan perjanjian paling agung yang pernah ada.

Barangkali karena itu, setiap kali ada gesekan dalam rumah tangga, cara paling jujur untuk menyelesaikannya bukan dengan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi dengan kembali bertanya, untuk apa sebenarnya kita menikah dulu. Allah sudah menitipkan jawabannya di surat Ar-Rum, agar kita menemukan ketenangan bersama pasangan, tumbuh rasa kasih dan sayang di antara keduanya. Kalau tujuan itu yang terus kita pegang, pertengkaran kecil biasanya jadi lebih mudah dicairkan.

Yang membuat malam itu terasa berarti, kita jadi sadar tidak ada sekolah formal untuk belajar berumah tangga. Tidak ada ijazah dan gelar sekolah persiapan pernikahan. Yang kita punya hanyalah cerita orang-orang di sekitar kita, seperti Pak Sodiq dan Bu Erwin malam itu. Dari merekalah kita justru belajar lebih banyak, karena mereka sudah benar-benar menjalaninya, bukan sekadar membicarakannya.

Ada tiga hal yang kita bawa pulang dari obrolan malam itu.

Pertama, setiap kali ada masalah, kembali dulu ke tujuan awal pernikahan kita, bukan langsung mencari pembenaran diri. Rumah tangga yang bertahan lama biasanya bukan yang paling jarang bertengkar, tapi yang paling cepat ingat untuk apa mereka bersama.

Kedua, jangan sungkan belajar dari kisah orang lain, sesederhana apa pun ceritanya. Kita tidak perlu menunggu mengalami sendiri semua kesulitan untuk bisa belajar. Cerita singkat Pak Sodiq dan Bu Erwin malam itu saja sudah cukup jadi pelajaran buat kita semua.

Ketiga, rayakan usia pernikahan bukan sebagai angka yang otomatis bertambah, tapi sebagai hasil dari kerja kecil yang dirawat setiap hari. Sepuluh tahun ke depan tidak akan datang dengan sendirinya kalau hari ini kita berhenti berusaha untuk saling memahami.

Pulang dari acara itu, kami berdua diam cukup lama di dalam mobil. Bukan diam yang canggung, tapi diam yang penuh pikiran. Barangkali begitulah bahtera rumah tangga bekerja, tidak pernah benar-benar selesai dibangun, terus diperbaiki setiap kali ada bagian yang retak, terus dilayarkan meski gelombangnya datang silih berganti.