Hampir setiap malam menjelang tidur, si bungsu minta didongengkan. Dulu ceritanya seputar pendekar sakti dan petualang penakluk lautan. Belakangan, tanpa kita duga, temanya bergeser ke kisah para penemu, dari Thomas Alva Edison sampai Al-Khawarizmi, sampai akhirnya pertanyaannya melebar ke hal-hal yang terdengar receh, siapa yang menemukan keran air, siapa yang pertama kali membuat semen. Malam itu saya jadi sadar satu hal sederhana, rasa ingin tahu anak kecil itu ternyata tidak pernah benar-benar berhenti bekerja, ia hanya berpindah dari satu pertanyaan ke pertanyaan berikutnya, tanpa lelah.

Kita yang sudah dewasa sering lupa, rasa ingin tahu itu sebenarnya bukan kelengkapan masa kanak-kanak yang seharusnya luntur seiring usia bertambah. Ia modal berpikir yang justru semakin langka kita rawat begitu kesibukan datang bertubi-tubi. Coba perhatikan, berapa kali dalam sehari kita menyentuh benda yang sebenarnya menyimpan cerita panjang tapi tidak pernah kita tanyakan asal-usulnya. Gagang pintu yang kita putar setiap pagi, sabun yang kita busakan di kamar mandi, bahkan urutan angka di kalkulator yang kita pakai untuk menghitung belanja bulanan, semuanya lahir dari seseorang yang dulu berani bertanya kenapa dan bagaimana, lalu tidak berhenti sampai jawabannya benar-benar ketemu.

Orang yang terbiasa bertanya semacam ini biasanya tumbuh menjadi pribadi yang menganalisis lebih tajam. Ilmu yang dipahami lewat proses mencari tahu juga jauh lebih nempel dibanding ilmu yang hanya dihafal tanpa tahu akar masalahnya. Bandingkan saja, karyawan yang sekadar menjalankan perintah tanpa pernah bertanya kenapa prosedurnya begitu, dengan karyawan yang selalu penasaran mengapa sesuatu dikerjakan dengan cara tertentu. Yang kedua biasanya lebih cepat berkembang, karena ia tidak berhenti di permukaan, ia terus menggali sampai menemukan akar persoalannya.

Menariknya, jauh sebelum dunia modern mengenal istilah berpikir kritis atau metode ilmiah, Islam sudah lebih dulu menempatkan rasa ingin tahu di posisi yang begitu istimewa. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukan perintah salat, bukan pula perintah puasa, melainkan satu kata sederhana, “iqra”, bacalah. Perintah ini diulang dua kali dalam surat Al-Alaq, dan para ulama menjelaskan bahwa maknanya jauh lebih luas dari sekadar membaca huruf di atas kertas. Membaca alam semesta, membaca fenomena di sekitar kita, membaca apa yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Seolah Allah ingin menegaskan sejak wahyu pertama, bahwa rasa ingin tahu terhadap ciptaan-Nya adalah pintu pertama menuju pengenalan kepada Sang Pencipta.

Tentu, rasa ingin tahu yang dimaksud di sini punya batas yang jelas. Bukan rasa ingin tahu yang berubah jadi kepo, sibuk mengurusi kehidupan orang lain yang bukan urusan kita. Rasa ingin tahu yang sehat lebih mengarah pada pertanyaan bagaimana dan mengapa terhadap suatu hal, supaya kita bisa melihat substansinya lebih dalam, bukan sekadar permukaannya saja.
Supaya rasa ingin tahu ini tidak ikut tertidur di tengah rutinitas yang menumpul, ada tiga latihan kecil yang bisa kita coba sehari-hari.

Pertama, biasakan bertanya “kenapa bisa begitu” pada hal-hal yang terlihat biasa saja. Kebiasaan sederhana ini melatih otak kita untuk tidak cepat puas dengan jawaban di permukaan, dan lama-lama menjadi kebiasaan berpikir yang otomatis, bukan sesuatu yang harus dipaksakan.

Kedua, luangkan waktu setiap hari untuk mencari tahu satu hal baru, sekecil apa pun itu. Tidak perlu topik besar, cukup satu pertanyaan yang muncul begitu saja di kepala, lalu telusuri jawabannya sampai benar-benar paham, bukan sekadar tahu judulnya.

Ketiga, ceritakan kembali apa yang baru kita pelajari kepada orang lain, entah kepada pasangan, rekan kerja, atau anak-anak di rumah. Menjelaskan ulang sesuatu ternyata cara paling jujur untuk menguji, apakah kita benar-benar memahaminya, atau baru sebatas mengetahui namanya saja.

Malam ini, kalau si bungsu bertanya lagi siapa penemu sabun atau siapa yang pertama kali menciptakan kaca jendela, kita mungkin belum tentu tahu jawabannya di luar kepala. Tapi justru di situlah letak keseruannya, mencari tahu bersama, membiarkan rasa ingin tahu itu terus menyala, sampai kelak kita sendiri lupa kapan terakhir kali berhenti bertanya.