Siang ini saya salat Jumat di masjid kantor. Di luar, matahari sedang di titik paling terik, tapi begitu masuk ke dalam masjid, hawa sejuk pendingin ruangan langsung menyambut. Khatib kali ini membuat saya cukup terkesan, tanpa banyak basa-basi, langsung masuk ke inti khutbah, singkat dan padat. Belum sempat rasa kantuk datang, khutbah sudah selesai. Tema yang diangkat terasa sederhana tapi dalam, ilmu mendahului amal.

Kalimat itu terus terngiang sepanjang perjalanan pulang. Semakin saya pikirkan, semakin saya sadar, prinsip ini sebenarnya bukan cuma berlaku dalam satu ajaran tertentu. Hampir semua tradisi mengajarkan hal yang serupa dengan bahasa yang berbeda-beda, bahwa tindakan yang baik selalu butuh pemahaman yang benar lebih dulu, supaya niat baik itu tidak berakhir sia-sia, atau bahkan salah arah.

Saya jadi teringat sebuah kisah sederhana yang pernah saya dengar. Ada seorang sahabat Nabi yang menyembelih hewan kurbannya lebih pagi dari waktu yang seharusnya, dengan niat baik, supaya keluarganya bisa segera menikmati dagingnya. Tapi karena ia tidak tahu aturan waktunya, yang ia sembelih akhirnya dianggap bukan sebagai ibadah kurban, melainkan sekadar menyembelih kambing biasa. Niatnya baik, tapi karena tidak didasari pemahaman yang tepat, hasilnya jadi tidak sesuai harapan.

Kita mungkin pernah mengalami versi lain dari cerita itu dalam hidup sehari-hari. Merakit perabot tanpa membaca petunjuknya lebih dulu, lalu harus membongkar ulang karena salah pasang. Memberi nasihat kepada teman yang sedang kesulitan, padahal kita sendiri belum benar-benar memahami akar masalahnya, sehingga nasihat itu malah membuatnya makin bingung. Niat baik memang penting, tapi ternyata belum cukup untuk menjamin hasil yang baik pula.

Rasanya, pemahaman dan tindakan itu ibarat pelita dan langkah kaki. Pelita tanpa langkah hanya akan diam di tempat yang terang, sementara langkah tanpa pelita berisiko tersandung dalam gelap. Keduanya perlu berjalan beriringan, saling menuntun, bukan saling menunggu.

Dari renungan siang ini, ada tiga hal yang barangkali bisa kita jaga supaya pemahaman dan tindakan kita benar-benar berjalan bersama.

Pertama, jangan menunda tindakan hanya karena merasa belum cukup paham. Cukupkan diri dengan pemahaman yang memang dibutuhkan untuk langkah yang ada di depan mata, lalu mulai bergerak, sambil terus belajar di sepanjang jalan.

Kedua, biasakan bertanya dulu sebelum melakukan sesuatu yang belum benar-benar kita pahami, apalagi kalau menyangkut hal yang penting. Bertanya bukan tanda kita lemah, justru tanda kita serius menjaga supaya hasilnya benar, bukan sekadar terasa benar menurut perasaan sendiri.

Ketiga, jadikan tindakan sebagai cara menguji dan mengokohkan apa yang sudah kita pelajari. Pemahaman yang hanya disimpan di kepala mudah menguap, tapi pemahaman yang segera dipraktikkan biasanya lebih membekas dan lebih lama bertahan dalam ingatan kita.

Khutbah siang ini singkat, tapi rasanya cukup untuk jadi bahan renungan sampai beberapa hari ke depan. Barangkali begitu cara sebuah pesan bekerja, tidak harus panjang untuk bisa mengubah cara kita memandang sesuatu, asal kita mau benar-benar meresapinya, lalu segera membawanya jadi langkah nyata.