Minggu pagi ini, di sela-sela partai final Dahana Soccer Cup, ada pertandingan eksibisi yang digelar di lapangan soccer milik PT Pindad, Bandung. Pertandingannya melibatkan keluarga besar Defend ID dan beberapa perusahaan lain, dibagi menjadi dua tim, Tim Putih dan Tim Merah. Yang bikin acara ini istimewa, masing-masing tim dilengkapi dua pemain legenda Persib Bandung. Di Tim Putih, tempat saya kebagian bermain, ada Robby Darwis, libero legendaris timnas Indonesia, dan Shohei Matsunaga. Di kubu Tim Merah ada Tan Tan dan Zainal Arif. Pertandingan akhirnya dimenangkan Tim Merah dengan skor tipis 1-0.

Sebelum cerita lebih jauh, ada satu hal yang perlu saya akui, saya ini bobotoh dari kecil. Sejak zaman pertandingan Perserikatan masih disiarkan lewat radio, saya sudah setia mendengarkan siaran Persib, jauh sebelum ada siaran langsung televisi apalagi live streaming seperti sekarang. Jadi bisa dibayangkan bagaimana rasanya pagi itu, bisa berbagi lapangan dengan pemain-pemain yang dulu cuma bisa saya kenal lewat suara penyiar radio.

Soal permainan, jujur saja, faktor usia itu tidak pernah bohong. Ada satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat betul. Matsunaga mengirim umpan silang dari tengah lapangan ke sisi kanan, umpannya manis sekali, benar-benar matang. Sayangnya, antara keinginan untuk mengejar bola dan tenaga yang tersisa di kaki ini rupanya sudah tidak sinkron. Bola akhirnya melebar keluar lapangan, dan langsung disambut sorak tawa dari penonton yang menyaksikan. Ya sudah, diterima saja dengan lapang dada, sambil ikut tertawa juga.

Ada satu cerita kecil lain yang menurut saya cukup unik. Matsunaga sekarang sudah tidak aktif di dunia sepak bola dan memilih berkarier di perusahaan. Karena ia sudah lama tinggal di Bandung dan menetap di sana, teman-teman di lingkungan Persib punya cara sendiri untuk menunjukkan kedekatan itu, namanya bukan lagi sekadar Shohei Matsunaga, tapi berubah jadi Shohei Asep Matsunaga. Sederhana, tapi terasa hangat, tanda bahwa ia sudah dianggap bagian dari keluarga besar urang Bandung.

Dari pagi yang meriah dan penuh tawa ini, ada tiga hal yang menurut kita layak jadi renungan bersama.
Pertama, setiap pemain punya masa jayanya masing-masing, tapi karya dan prestasi mereka tetap dikenang jauh melampaui masa aktifnya. Lihat saja bagaimana penonton pagi itu masih antusias meminta tanda tangan dan berfoto bersama Robby Darwis, Matsunaga, Tan Tan, dan Zainal Arif. Itu semua buah dari dedikasi dan prestasi yang mereka tanam bertahun-tahun silam, dan tidak pernah benar-benar pudar dimakan waktu.

Kedua, faktor usia memang tidak pernah bohong. Keinginan untuk berlari kencang dan menendang bola sekuat dulu harus berkompromi dengan kondisi tubuh yang sudah bukan lagi tubuh atlet aktif. Bukan berarti kita berhenti berolahraga, hanya saja pilihan olahraga dan intensitasnya perlu disesuaikan dengan kondisi diri masing-masing, supaya niat sehat tidak berbalik jadi cedera.

Ketiga, sepak bola selalu punya cara mengajarkan sportivitas dan fair play, bahkan dalam pertandingan yang sifatnya eksibisi dan penuh canda seperti pagi ini. Kalah menang jadi urusan belakangan, yang lebih penting adalah kebersamaan, tawa, dan kegembiraan yang tercipta selama pertandingan berlangsung.

Pulang dari lapangan Pindad pagi itu, keringat sudah bercucuran, napas juga agak tersengal, tapi ada kepuasan tersendiri. Bukan soal menang atau kalah, tapi soal bisa merasakan langsung suasana yang dulu hanya bisa saya bayangkan lewat suara radio.