Pagi telah tiba, hari kedua lebaran Idul Fitri pun telah datang. Saatnya mudik ke destinasi kedua. Ciamis, kami datang. Eng…ing…eng….

Kami sadar perjalanan mudik kali ini akan memakan waktu yang lebih lama ketimbang dilalui pada hari biasa. Maklum musim mudik lebaran, kepadatan lalu lintas terjadi dimana-mana.

“Anak-anak, mari kita niatkan perjalanan ini sebagai amalan mengikuti sunah nabi, melakukan safar untuk menyambungkan tali silaturrahim. Kita awali dengan doa bepergian,” ajak saya saat memberikan sambutan kenegaraan.

Supaya kesan pikniknya terasa, kursi kendaraan pun dimodifikasi. Kursi bagian tengah dilipat, sela-selanya diisi dengan tas-tas sehingga rata. Kasur tipis dihamparkan diatasnya. Jadilah tempat tidur di dalam mobil.

Benar saja, kemacetan sudah menyambut kami mulai dari tol Cipali daerah Cikopo. Merayap hingga akhirnya di km 120 baru mendapatkan one way hingga akhirnya keluar di gate Kertajati. Kadipaten hingga Cikijing padat merayap. Menjelang petang memasuki track Jahim. Kemacetan parah justru ada di Haurbeuti hingga Cikoneng. Perjalanan normal 15 menit ditempuh dua jam. Alhasil total perjalanan 9 jam. Tidak mengapa, demi silaturrahim.

Silaturrahim berasal dari kata shilah yang artinya hubungan dan rahim artinya kerabat. Rahim sendiri juga berasal dari Ar Rahmah yang berarti kasih sayang, sehingga sering disebut dengan berkasih sayang atau menjalin kekerabatan pada istilah silaturrahim.