Ini tentang rasa. Bagaimana menggeluti habitat yang sama dalam kurun waktu yang lama. Lima belas tahun tentunya bukan waktu yang sebentar, bisa jadi itu sudah separuh waktu hingga usia pensiun dalam sebuah pengabdian.

Lantas kenapa bisa bertahan? karena saya mencintai profesi ini. Saya menyukai bidang ilmu sosial, namun pada saat penjurusan di SMA dulu saya malah masuk kelas IPA. Hasrat hati masuk hubungan internasional atau psikologi di UMPTN, namun takdir membawa saya menimba ilmu di politeknik dengan jurusan yang bukan teknik.

Program studi yang diambil di tingkat dua adalah administrasi bisnis dan kesekretariatan. Maka tak heran kalau pandai mengetik sepuluh jari dan stenografi (itu dulu). Namun, pada saat mengambil tugas akhir saya malah mengambil topik public relations. Pembimbing saya waktu itu adalah Pak Santosa dengan panggilan akrab Pak Oca. Di tempat penelitian, saya bertemu dengan orang baik pula, Pak Iwan yang membidangi kehumasan di Eldorado the Family Club Setiabudi Bandung.

Setelah bekerja beberapa tahun, saya baru melanjutkan ke jenjang strata satu ilmu komunikasi di Kampus Meruya. Termotivasi dengan cara mengajar Bu Ida Anggraini yang berapi-api tentang Komunikasi Organisasi, skripsi saya pun mengambil bahasan tentang jaringan komunikasi.

Ada rasa berbeda kuliah setelah bekerja. Perpaduan antara teori dan praktek saling melengkapi sehingga mulut ini sering menganga “Oh, rupanya begini.” Beberapa tahun kemudian mengikuti tes beasiswa strata dua diplomasi pertahanan. Namun pada saat saringan akhir, jadwal wawancara bentrok dengan tugas ke Eurosatory Prancis. Jadwal wawancara tidak dapat dirubah, sementara visa dan keberangkatan sudah di depan mata. Tak jadi lanjut kuliah.

Saya terlanjur jatuh cinta dengan profesi di bidang komunikasi ini. Walaupun tidak lanjut melalui jenjang pendidikan formal, setidaknya pelatihan, literatur dan pergaulan dengan rekan seprofesi menambah hasanah pengetahuan dan pengalaman. Jadi, tidak ada yang namanya berhenti untuk belajar. “Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”.