Senja terlihat mendung. Di langit nampak awan putih keabuan menggelayut manja. Walau agak gelap, sepertinya hujan cenderung enggan untuk turun ke bumi sore ini.

Jalan raya yang menghubungkan Cikopo – Sadang Purwakarta cukup padat. Saya duduk manis di samping Pak Sopir Angkot 43. Tadinya saya sedang asyik dengan gadget, hingga akhirnya gumaman Pak Sopir membuat saya memalingkan muka kearahnya sambil tersenyum.

“Gimana penumpangnya hari ini, pak?” tanya saya membuka percakapan.

“Seperti biasa. Minimal tidak nombok setoran,” jawabnya sambil tersenyum kecut.

Sambil asyik tangannya di kemudi, Pak Sopir pun buka suara ketika berondongan pertanyaan ala wartawan infotainment mulai keluar dari mulut saya.

Setiap hari ia bekerja sebagai seorang sopir angkot jurusan Cikampek – Purwakarta. Angkot yang dikemudikannya memang terbilang tua, dengan bodi sebagian tidak utuh, angkot ini masih dapat melaju walaupun mengeluarkan suara yang bising.

“Setiap hari saya setor 120 ribu ke pemilik angkot,” ujarnya dengan logat sunda yang khas.

Hari ini dia berusaha ngejar untuk menutup setoran setelah dua hari lalu tidak mencapai target.

“Biasanya tertolong kalau ada yang borongan, atau minta antar ke suatu tempat,” akunya.

Menurutnya, jumlah setoran angkot setiap harinya antar sopir bervariasi. “Ini tergantung kesepakatan dengan pemilik angkot. Kisaran 100 – 120 ribu. Itu pun sudah berat bagi supir,” keluhnya.

Pos pengeluaran operasional terbesar sehari-hari adalah dari pengisian BBM. Setiap harinya, rata-rata setiap angkot 43 narik 4 – 5 rit dari pagi hingga menjelang malam. Rute terjauh Cikampek – Purwakarta bertarif Rp. 10 ribu. Untuk jarak dekat ongkosnya bervariasi antara 3.000 hingga 5.000.

“Kalau tidak salah angkot 43 ini 24 jam ya, Pak?” tanya saya menjelang turun di tempat tujuan.

“Iya, tapi sebagian. Terutama yang pakai dua supir. Tapi sekarang kalau malam sepi sejak ada angkutan online,” jawabnya.

“Saya turun di seberang Tokma ya, pak.” Kata saya sambil menunjuk ke arah depan.

Angkot tua itu pun berhenti. Saya kasih uang selembar lima ribu sambil menutup pintu. Seperti pada saat naik, pintu itu sulit ditutup karena sudah rusak. Ripanya, hanya Pak Supir yang bisa menutupnya.

Angkot itu pun berlalu meninggalkan jejak suara bising. Dalam hati saya berdoa semoga Pak Sopir diberi kemudahan dan rasa bersyukur yang akan mengundang rezeki yang berkah. (011219)