Dulu diantar orangtua ke pondok, kini saatnya mengantarkan anak pergi mondok. Begitulah kehidupan, dulu menjadi anak sekarang diamanahkan menjadi orangtua. Dan Alhamdulillah anak pertama/Kakak sudah memulai aktivitasnya sebagai santriwati di sebuah pondok pesantren yang berada di kaki Gunung Ciremai Kuningan.

Saya patut bersyukur, keinginan untuk mondok ini datang dari anak dan orangtua. Dalam prakteknya, anak terlihat santai untuk memasuki dunia barunya, sementara orangtua dibuat galau karena akan berpisah dengan anak yang sehari-harinya bersama di rumah. Terlebih saat ini masih musim pandemi yang membuat sesaat maju mundur syantik antara berangkat ke pondok atau mengikuti program PJJ.

Rencana untuk pergi mondok ini sudah dibahas sejak Kakak masih di kelas lima sekolah dasar. Rupanya, bertukar pikiran dengan Saya yang juga alumni pesantren dan ditambah dengan bacaan bukunya seperti novel “Negeri 5 Menara” membuatnya tertarik untuk mondok.

Ternyata, mencari tempat pendidikan untuk anakpun gampang-gampang susah. Setahun sebelum kelulusan, kami pun berkeliling ke hampir sepuluh pesantren yang berada di Jawa Barat. Mulai yang di kota hingga ke pelosok. Alhamdulillah, banyak hikmah dari kunjungan survey tersebut hingga proses seleksi di beberapa pondok.

Di sini saya disadarkan kembali pada sebuah hakikat. Manusia boleh memiliki keinginan, begitupun boleh merasa memiliki pilihan terbaik untuk buah hatinya. Namun, pilihan Allah SWT lah yang terbaik. Manusia punya rencana, Allah SWT punya rencana, maka rencana Allah SWT yang akan terjadi.

Sabtu lalu, kami mengantar Kakak untuk menapaki dunia barunya menjadi santri. Seperti halnya 24 tahun lalu, ketika orangtua mengantarkan Saya ke pondok pesantren yang berada di Cipare Serang Banten, tak perlu lama beradaptasi untuk gembira menjadi bagian dari keluarga baru. Tentu harapan serupa untuk Kakak, pondok ini akan menjadi keluarga barunya yang akan menempanya menjadi pribadi yang lebih tangguh dengan pondasi agama yang kokoh.

Boleh menangis tapi tak boleh larut dalam kesedihan karena berpisah sementara ini. Lebih baik menangis sekarang daripada menangis kelak. Mohon doanya untuk Kakak, semoga selalu sehat, bersemangat dalam menuntut ilmu dan menjadi seorang hafiz Qur’an.