Pandemi Covid-19 memang membuat kisruh hampir semua lini kehidupan. Silang pendapat terjadi mulai dari pejabat negara hingga tingkat RT. Mulai dari masalah kebijakan hingga urusan peribadatan.

Selama Ramadhan yang lalu, tarik menarik antara pro ibadah di masjid dan sementara ibadah di rumah selama wabah tidak terelakan lagi. Kadang perbincangan di group diberi tajuk ‘ini diskusi’ namun tone pembicaraan memaksakan pendapatnya. Ini bukan diskusi, tapi sudah perdebatan. Perang ayat tanding hadits. Padahal jawabannya sudah ada dari para alim ulama yang tidak diragukan lagi kapasitas keilmuannya. Yaitu lebih mendahulukan ukhuwah dan saling menghormati pilihan satu sama lain karena sama-sama memiliki dalil.

Iseng iseng buka Mbah Google untuk mencari perbedaan diskusi dan debat, salah satunya dari aspek tujuan. Tujuan diskusi adalah untuk mencari penyelesaian suatu masalah dan proses penyamaan pandangan melewati jalan mufakat. Sedangkan, tujuan debat adalah untuk mendapatkan kemenangan melewati adu opini yang mematahkan opini lawan dengan dukungan bukti-bukti.

Dari situ saya teringat saat kuliah, sempat ikut dalam perlombaan debat dalam rangka memperingati HUT Kampus. Setelah dinyatakan kalah, saya dikasih tahu sama teman. “Kang, kalau gaya Akang tadi mah namanya diskusi bukan debat. Pantas kalah,” ujarnya.

Untungnya masih mendapat juara dua lomba karya tulis ilmiah. Lagian, saya tidak suka berdebat. Apalagi memperebutkan pepesan kosong. Eh, kalau jadi moderator bolehlah.