Jika ditanya pelajaran apa yang paling diingat kala sekolah dulu, maka jawaban saya tertuju ke pelajaran sejarah. Jasmerah, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Begitu semboyan Bung Karno yang terkenal dalam pidatonya yang terakhir pada Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1966.

Selintas kemudian, guru sejarah yang dapat saya ingat adalah Pak Dartoyo. Seorang guru sederhana nan bersahaja yang mengajar di SMUNSA Serang Banten kala itu. Datang ke sekolah menggunakan sepeda, Pak Dartoyo menjadi salah satu guru favorit saya, karena memang saya menyukai pelajaran sejarah. Mulai dari zaman pra sejarah, sejarah kuno yang ditandai oleh peradaban Mesopotamia, perang kemerdekaan hingga pengkhianatan anak bangsa terhadap bangsanya sendiri.

Ujung nama anak kedua saya juga terinspirasi dari sejarah. Adalah Muhammad Al Fatih, penguasa Utsmani ketujuh dengan capaiannya yang paling dikenal luas berupa penaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 yang mengakhiri riwayat Kekaisaran Romawi Timur. Dan hal ini sudah termaktub dalam hadits nabi. Dalam sebuah kesempatan Rasulullah bersabda, Konstantinopel benar-benar akan ditaklukkan. Sebaik-baik amir (khalifah) adalah amir (khalifah) yang memimpin penaklukkannya dan sebaik-baik tentara adalah tentara yang menaklukkannya.” (HR Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim).

Tahun lalu, saya bersama istri berkesempatan melihat langsung tempat-tempat bersejarah di Istanbul. Termasuk Laut Marmara dan selat sempit Goden Horn yang terletak di sisi timur sebagai titik lemah Konstantinopel saat itu. Selat ini dibentang rantai besar, mustahil armada kecil sekali pun untuk melewatinya. Tapi Al-Fatih yang saat itu berusia 23 tahun tak kehabisan akal. Ia menggusur kapal-kapalnya dari laut ke darat demi menghindari rantai besar. Sebanyak 70 kapal digotong ramai-ramai ke sisi selat dalam waktu singkat pada malam hari. Inilah awal dari kejatuhan Konstantinopel yang fenomenal.

Kembali ke awal tulisan, saya meninggalkan SMUNSA sudah 21 tahun yang lalu. Ternyata sudah lama juga. Teriring doa semoga kesehatan selalu menyertai Pak Dartoyo dan para guru, serta teman-teman alumni yang sudah tersebar di mana-mana.