Mungkin perasaan ini ada juga di dalam benak teman-teman. Ketika mengakhiri waktu kerja terasa tidak mendapatkan ‘apa-apa’, tugas masih menumpuk. Di kala bergegas menutup hari sebelum ke peraduan, ternyata masih banyak yang belum dikerjakan selama hari tersebut. Lalu tadi ngapain saja?

Rupanya, kita sering tergoda menghabiskan waktu dengan hal-hal lain yang bukan prioritas. Alhasil, pada waktunya kita baru tersadar tugas utama belum terselesaikan. Banyak sekali tips berserakan di internet tentang bagaimana mengatur waktu. Tapi yang paling mengena di hati saya adalah menggunakan catatan target harian.

Menurut banyak penelitian, manusia tidak mungkin bisa mengingat semua hal. Paul King dari Redwood Center for Theoretical Neuroscience, University of California Berkeley, mengatakan hal itu memang benar. Alasannya sederhana: karena terlalu banyak informasi yang masuk ke otak dan otak kita tak bisa menyimpan semuanya. Menurut Paul, ada 1 triliun masukan sensorik yang kita terima tiap hari. Itu 10 kali lebih banyak ketimbang seluruh neuron dalam otak. Nah, loh.

Saya menyadari bahwa kemampuan otak untuk mengingat sangat terbatas, terlebih ketika usia beranjak tidak muda lagi. Catatan yang kita buat sangat membantu mengingatkan, atau mengembalikan fokus terhadap target yang ingin kita raih pada hari tersebut.

Metode dan sarana mencatat ini sangat variatif tergantung selera. Ada yang menggunakan buku catatan, ada yang menggunakan note digital di telepon genggam dan lain sebagainya. Apa pun bentuknya, tugasnya sama untuk membantu kita mengingatkan akan target apa yang harus diselesaikan.

Satu hal lagi yang harus diingat. Catatan akan menjadi hanyalah sebuah catatan belaka. Disiplin untuk menyelesaikan pointer di catatan itu menjadi hal kunci. Yang sering saya rasakan, begitu bahagianya ketika melingkari nomor urut tugas harian dan memberikan tulisan diujung kalimat dengan kata ‘Done’.