Siang itu panasnya sudah di ubun-ubun. Duduk di depan laptop saja rasanya keringat mau menetes sendiri, belum lagi rutinitas yang tidak ada ampunnya. Di tengah cuaca yang bikin badan lemas begini, biasanya kita akan lari ke secangkir kopi dingin. Tapi entah kenapa, siang itu yang terbayang justru sepiring tahu gejrot.
Bagi kita, tahu gejrot bukan sekadar camilan pengusir bosan. Ada sesuatu dari kuliner khas Cirebon ini yang sulit untuk kita abaikan begitu saja. Potongan tahu goreng yang kopong di dalamnya, disiram kuah asam-manis-pedas yang cair, ditambah ulekan kasar bawang merah dan cabai rawit hijau yang tidak pelit-pelit, selalu berhasil menciptakan perpaduan rasa yang aneh tapi bikin ketagihan.
Begitu suapan pertama menyentuh lidah, di tengah teriknya siang, rasa pedas dan asamnya langsung menyerbu, mengusir kantuk seketika, membuat mata yang tadinya sayu jadi melek sempurna. Ada kepuasan tersendiri saat keringat mulai menetes pelan-pelan, sementara bumbu yang meresap ke dalam tahu terus terasa sampai suapan terakhir.
Kalau ditelusuri, sejarah tahu gejrot ini sebenarnya cerita akulturasi yang menarik untuk kita simak bersama. Konon kuliner ini lahir dari wilayah Cirebon dan sekitarnya, tumbuh dari tangan-tangan perajin tahu keturunan Tionghoa yang sudah lama menetap di sana. Tahu yang tadinya sederhana itu kemudian dikreasikan masyarakat setempat dengan bumbu yang sangat merakyat, gula aren cair, asam jawa, bawang merah, dan cabai rawit segar. Nama “gejrot” sendiri konon berasal dari bunyi khas ketika kuah cair itu disiramkan dari botol kaca ke atas piring gerabah kecil, jegrot, jegrot begitu bunyinya. Bunyi kecil itu yang akhirnya melekat jadi nama, dan tidak pernah lepas sampai sekarang.
Dulu, menikmati tahu gejrot identik dengan suara langkah pedagang pikulan yang keliling kampung, atau bunyi gerobak sederhana yang mangkal di pinggir perumahan. Sekarang, ceritanya sudah jauh berbeda. Tahu gejrot tidak lagi hanya ada di pinggir jalan, ia sudah naik kelas, muncul rapi di buku menu restoran-restoran kekinian, bahkan di hotel berbintang. Yang menarik, meski tempatnya berubah, rasa yang dicari orang tetap sama, sensasi pedas asam yang menampar lidah itu.
Supaya pengalaman menikmati tahu gejrot makin berkesan dan tetap ramah di perut, ada tiga hal sederhana yang bisa kita coba.
Pertama, sesuaikan cabainya dengan kemampuan perut kita sendiri, jangan gengsi mengurangi takaran meski penjualnya menawarkan level paling pedas, karena kenikmatan yang berujung sakit perut bukan kenikmatan yang layak dikejar.
Kedua, perhatikan kuahnya, karena di situlah letak nyawa tahu gejrot. Kuah yang enak adalah yang seimbang antara asam jawa dan manis gula aren, ditambah harumnya bawang merah segar, tanpa perlu didominasi kecap yang berlebihan.
Ketiga, segera santap begitu disajikan. Tahu gejrot itu makanan yang tidak sabar untuk ditunggu, kuahnya masih segar, tahunya belum terlalu lembap, dan sedikit tekstur renyah di gigitan pertama masih bisa kita rasakan.
Jadi, gimana dengan kita semua? Di antara secangkir kopi panas dan sepiring tahu gejrot, kira-kira mana yang lebih ampuh mengusir kantuk di siang hari?