Ada satu percobaan yang datanya sederhana, tapi kalau kita renungkan sungguh-sungguh, bisa membuat kita merinding. Sekelompok peneliti di Universitas Uppsala, Swedia, suatu ketika menunjukkan foto wajah tersenyum kepada sejumlah partisipan, hanya selama tiga puluh milidetik, waktu yang bahkan lebih singkat dari satu kedipan mata.
Begitu singkatnya, sampai otak sadar para partisipan sama sekali tidak sempat menangkap apa yang baru saja mereka lihat. Tapi alat yang merekam gerak otot wajah mereka mencatat sesuatu yang mengejutkan. Otot-otot di sekitar bibir mereka sudah lebih dulu bergerak, ikut membentuk lengkungan senyum, sebelum kesadaran mereka sempat menyusul. Bukan sandiwara, bukan kesengajaan. Murni refleks.
Di situlah kita jadi paham, senyum itu ternyata bekerja seperti sesuatu yang menular, berpindah dari satu wajah ke wajah yang lain tanpa pernah meminta izin, tanpa perlu menunggu kita sadar sepenuhnya.
Kalau penelitian Uppsala tadi bicara dalam hitungan milidetik, ada penelitian lain yang justru bicara dalam hitungan tahun. Sebuah kajian yang menelusuri data Framingham Heart Study selama dua puluh tahun, melibatkan hampir lima ribu orang dan puluhan ribu jalinan sosial di antara mereka, menemukan bahwa kebahagiaan seseorang bisa menjalar hingga tiga tingkat jarak sosial. Bukan hanya menular ke sahabat kita, tapi ke sahabatnya sahabat kita, bahkan ke orang yang bahkan belum pernah kita temui sama sekali. Tetangga yang tinggal bahagia di sebelah rumah kita saja, tercatat mampu menaikkan peluang kita ikut bahagia hingga tiga puluh empat persen.
Kita, tanpa pernah benar-benar menyadarinya, ternyata adalah simpul-simpul kecil dalam jaringan penularan itu. Setiap kali kita tersenyum di ruang tunggu, di lampu merah, di meja kerja, kita sedang melepaskan sesuatu yang akan terus berjalan, berpindah dari wajah ke wajah, jauh melampaui jangkauan mata kita sendiri.
Dan di sinilah yang membuat kita semakin terdiam sejenak untuk merenung. Empat belas abad sebelum alat perekam gerak otot wajah itu ditemukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah lebih dulu menitipkan satu pesan yang kini seperti mendapat penjelasannya dari sains modern.
“Tabassumuka fii wajhi akhiika laka shadaqah,” senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu.
Hadits ini diriwayatkan Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, berstatus hasan, dan diperkuat oleh riwayat-riwayat lain dari beberapa sahabat yang berbeda.
Kalau senyum itu sedekah, dan sedekah itu ternyata bisa menular sampai tiga tingkat jarak sosial, maka pahala dari satu senyuman kita mungkin sedang berjalan jauh lebih panjang dari yang pernah kita bayangkan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu, dan tidak perlu tahu, ke wajah siapa saja senyum kita akhirnya singgah.
Ada tiga hal yang barangkali bisa menjadi pegangan kita menghadapi kenyataan yang menakjubkan ini.
Pertama, kita menyadari bahwa wajah kita adalah bahasa yang bekerja lebih cepat dari kata-kata kita. Selama ini kita begitu menjaga lisan agar tidak menyakiti, tapi jarang menyadari bahwa raut wajah kita pun sedang berbicara, bahkan sebelum mulut kita sempat membuka. Menjaga wajah agar tetap ramah, ternyata bagian dari menjaga adab kita kepada sesama.
Kedua, kita membiasakan diri menjadi yang memulai, bukan yang menunggu. Dalam sebuah rantai penularan, selalu ada seseorang yang harus menjadi sumber pertama. Kita bisa memilih menjadi sumber itu, tanpa menunggu disenyumi lebih dulu, tanpa menghitung untung rugi, karena kebaikan yang menunggu dibalas biasanya berhenti sebelum sempat menyebar.
Ketiga, kita percaya bahwa kebaikan sekecil apa pun memiliki jangkauan yang jauh melampaui yang bisa kita lihat. Seperti kebahagiaan yang menjalar tiga tingkat dalam jaringan sosial itu, senyum yang kita berikan hari ini bisa jadi baru akan dirasakan dampaknya oleh seseorang yang bahkan belum pernah bersua dengan kita, dua atau tiga langkah dari tempat kita berdiri sekarang.
Barangkali begitulah cara Allah merancang kebaikan, agar tidak pernah benar-benar berhenti di satu titik. Ia terus berjalan, berpindah tangan, berpindah wajah, seperti wabah yang tidak pernah kita minta hentikan penyebarannya. Bedanya, wabah yang satu ini boleh kita sebarkan sebanyak-banyaknya, sebab semakin luas ia menular, semakin banyak pula ladang pahala yang kita tanam tanpa perlu kita tuai sendiri.
Jadi mari, mulai dari wajah kita hari ini, kita lepaskan penularan yang baik itu. Sekecil apa pun yang kita rasa, sesederhana apa pun senyum yang kita berikan, ia sedang menempuh perjalanan yang jauh lebih panjang dari yang bisa kita ikuti.