Ada yang aneh dari lagu itu. Judulnya “Sumbang”, dinyanyikan oleh seorang yang namanya sendiri terdengar seperti nada minor, Iwan Fals. Tapi anehnya, setiap kali telinga kita menangkap petikan gitarnya, tak ada satu pun nada yang terasa sumbang. Justru sebaliknya, ia terdengar begitu jujur, begitu pas, seolah setiap kata dipilih untuk mewakili apa yang selama ini kita rasakan tapi tak pernah sanggup kita ucapkan dengan lantang.

Lusuhnya kain bendera di halaman rumah, begitu liriknya membuka cerita. Kain yang warnanya sudah pudar, robek di ujung-ujungnya, ditiup angin dan disiram hujan sepanjang tahun. Tapi kelusuhan itu, kita tahu, bukan alasan untuk menurunkannya. Bukan alasan untuk berhenti mengibarkannya setiap tujuh belas Agustus. Karena bendera yang lusuh justru menyimpan cerita paling jujur tentang bagaimana ia bertahan, tentang berapa lama ia sudah menemani rumah kita, menemani perjalanan panjang bangsa ini.

Delapan puluh satu tahun sudah usia kemerdekaan kita. Dan jika kita jujur, usia itu bukan usia yang sepenuhnya menggembirakan untuk dirayakan tanpa jeda. Sebab setiap hari, layar ponsel kita menyuguhkan berita yang mengiris hati. Betapa kontradiktif kehidupan ini dipertontonkan begitu telanjang.  Belum lagi pejabat yang pamer kemewahan di tengah rakyat yang masih harus berhitung untuk makan tiga kali sehari. Semua itu bukan gosip, bukan fitnah. Semua itu ada di depan mata kita, disaksikan bersama, dan sering kali dibiarkan begitu saja.

Wajar jika ada di antara kita yang lelah. Wajar jika ada yang bertanya, untuk apa lagi kita mengibarkan bendera yang lusuh itu, jika yang kita rayakan hanya seremoni tanpa makna. Tapi di sinilah, sebagai orang yang beriman, kita diajak untuk tidak berhenti pada kelelahan itu saja.

Al-Qur’an mengingatkan kita dalam surat At-Taghabun ayat 16, “Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Jika kalian diperintah suatu perkara, kerjakanlah semampu kalian.” Dari dua pijakan inilah para ulama merumuskan sebuah kaidah fikih yang begitu menenangkan hati: ma la yudraku kulluhu la yutraku kulluhu, apa yang tidak bisa kita raih seluruhnya, jangan sampai membuat kita meninggalkannya seluruhnya.

Begitu pula dengan cinta kita pada negeri ini. Kita mungkin tidak bisa membenahi semua yang rusak sendirian. Kita mungkin tidak bisa mengadili semua yang korupsi, tidak bisa membalikkan semua kebijakan yang terasa berat sebelah. Tapi ketidakmampuan kita mengerjakan semuanya, tidak boleh menjadi alasan untuk kita meninggalkan semuanya. Selama masih ada yang bisa kita perbaiki, sekecil apa pun itu, di situlah tanggung jawab kita berada.

Ada tiga hal yang barangkali bisa menjadi pegangan kita menghadapi kegelisahan ini.

Pertama, kita menjaga hati agar tidak larut dalam kemarahan yang justru memadamkan semangat. Marah pada ketidakadilan itu sah, bahkan sehat. Tapi kemarahan yang dibiarkan tanpa arah hanya akan membakar diri sendiri, membuat kita lelah sebelum sempat berbuat apa-apa.

Kedua, kita memulai dari lingkaran yang paling dekat dengan kita. Tidak semua orang punya kuasa untuk mengubah kebijakan negara, tapi hampir semua orang punya kuasa untuk jujur di tempat kerjanya, adil pada tetangganya, amanah pada titipan yang diberikan padanya. Negeri besar ini pada akhirnya dibangun dari kejujuran-kejujuran kecil yang dijaga secara konsisten oleh orang-orang biasa seperti kita.

Ketiga, kita merawat harapan seperti kita merawat bendera yang lusuh itu. Tidak menurunkannya, tidak membiarkannya robek sia-sia, tapi terus menjahitnya, terus mengibarkannya, karena harapan yang dirawat adalah bahan bakar yang akan membawa perbaikan, sekecil apa pun langkahnya, sepelan apa pun jalannya.

Kita mungkin tidak hidup di masa ketika kemerdekaan bisa dirayakan dengan gegap gempita tanpa beban di dada. Kita hidup di masa ketika kemerdekaan justru menuntut kita untuk lebih dewasa memaknainya, bukan sekadar upacara dan lomba panjat pinang, tapi sebagai panggilan untuk terus memperbaiki apa yang bisa kita perbaiki, sekecil apa pun bagian yang kita pegang.

Dan seperti lagu itu, seperti “Sumbang” yang dinyanyikan Iwan Fals tapi tak pernah terdengar sumbang, semoga negeri ini pun begitu. Sesumbang apa pun keadaannya hari ini, sesumbang apa pun berita yang kita dengar setiap pagi, kita masih bisa memilih untuk menjadi nada yang jujur di tengahnya. Karena kemerdekaan yang sesungguhnya, barangkali bukan soal seberapa sempurna negeri ini hari ini, tapi seberapa teguh kita memilih untuk tetap mencintainya, apa adanya, sambil terus berbenah.

Selamat merayakan delapan puluh satu tahun kemerdekaan. Selamat terus menjahit bendera yang lusuh itu, seperti kita terus menjahit harapan kita pada negeri ini.