Senang rasanya dapat menunaikan sholat Jumat kembali di Masjid Al Aqsha PT Len Industri. Masjid yang tidak terlalu besar tapi terasa hegar dengan sejuknya udara Kota Kembang. Pada saat memasuki masjid, pandangan mata disambut oleh running text yang persis di atas area imam. Dengan warna merah, huruf-huruf terangkai menjadi kata berbaris rapi bergerak dari kanan ke kiri. Jelas tulisannya mengutip salah satu hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori.

“Dari Abu Hurairoh rodhiyallohu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa mandi di hari Jum’at dengan mandi janabah, kemudian datang di waktu yang pertama, ia seperti berkurban seekor unta. Barangsiapa yang datang di waktu yang kedua, maka ia seperti berkurban seekor sapi. Barangsiapa yang datang di waktu yang ketiga, ia seperti berkurban seekor kambing gibas. Barangsiapa yang datang di waktu yang keempat, ia seperti berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang datang di waktu yang kelima, maka ia seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).”

Merasa tersindir, mungkin saya hanya mendapatkan sebutir telur karena masuk pada saat khotib beranjak ke mimbar. Setelah kumandang adzan yang terdengar merdu, khotib pun memulai khutbahnya. Wajahnya teduh, dan suaranya bulat walau tidak keras berapi-api. Ia hanya membahas dua ayat dalam Al Quran yang saling berkaitan. Khutbahnya berhasil membuat mata saya terhindar dari rasa kantuk yang biasanya mendera kala khotib berkhutbah.

Ia memulai dengan perumpamaan perilaku bumi yang aneh. Gunung terasa sejuk kala dipandang, namun tetiba garang memuntahkan lahar. Lautan luas membentang dengan warna biru teduhnya tiba-tiba mengamuk menyerang daratan. Bumi yang tersusun rapi tiba-tiba terbelah, membalikan yang di bawah menjadi di atas dan menelan yang di atasnya. Semua atas perintah Allah SWT.

Bumi akan menyampaikan beritanya, begitulah bunyi salah satu ayat Al Quran Surat Al Zalzalah. “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,” (Al zalzalah: 4). Ayat ini diawali sebelumnya oleh rangkaian ayat lainnya dalam surat ini. 1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,3. Dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Ayat ketiga ini dijawab oleh ayat keempat. “Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya.”

Sang khatib melanjutkan, bahwa pada saatnya nanti, bumi akan bercerita tentang kita. Tentang apa yang dilakukan oleh kita. Bagaimana kita duduk itikaf di masjid, bagaimana meja kerja kita akan menceritakan apa yang dilakukan oleh kita, bagaimana handphone kita juga akan bercerita tentang aktivitas kita.

Khatib pun berkisah, ketika pergi ke pantai, jangan sekedar menikmati pantainya saja. Awalilah dengan dzikir bersama dan mentadaburi ciptaanNya. Maka nanti pun laut akan bercerita tentang itu. Awalilah dengan kebaikan, bahkan sebelum tidur mengibas-ngibas tempat tidur tiga kali seperti disunahkan, apalagi dengan diiringi doa. Nanti tempat tidur pun akan bercerita.

Ayat kedua yang diungkapkan khatib ada di Surat Yasin ayat 65. Ayat ini pula yang menginspirasi seorang Taufik Ismail ketika merangkai lirik lagu ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’ yang dinyanyikan Krismansyah Rahadi atau biasa dipanggil Chrisye (1949-2007).

Alyauma nakhtimu ’alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa kaanu yaksibuun”. Maknanya, “Pada hari ini Kami akan tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan.”

Diakhir khutbahnya khatib pun berpesan, hati-hatilah dalam melangkah karena semua terekam dalam CCTV Allah SWT. Hingga pada saatnya nanti, mulut kita yang cerewet sekali pun akan bungkam seribu basa. Mata, kaki dan bumi akan bersaksi tentang kita.