Banyak cara untuk menggugah hati dan mengedukasi. Seperti berpuasa mengajarkan kita berempati dengan rasa lapar dan dahaga yang biasa dirasakan oleh mereka yang dalam keadaan kekurangan. Begitupun dengan berbagi makanan, kita diajarkan untuk memiliki kepekaan sosial untuk berbagi, walaupun kadang jumlahnya tidak banyak.

Seperti sore itu, Istri mengajak berkeliling kota untuk berbagi makanan. Sebelumnya, pagi-pagi ia membeli daging ayam cukup banyak, dan menjelang ashar memasaknya hingga mengemas ke dalam box beserta sambal dan beberapa ‘asesoris’ lainnya. Tak lupa Faro dan Amzar (6 dan 3 tahun) begitu bersemangat dengan membantu membawakan dus makanan yang jumlahnya 15 dus.

Perjalanan keliling kota pun dimulai. Setelah melewati lampu merah perempatan Tegal Kalapa, nampak pemulung, pria bertopi sedang memasukkan dus dan barang bekas lainnya di depan sebuah bengkel. Pakaian agak lusuh dengan posisi membelakangi jalan raya. Kendaraan kami pun mendekat, kaca jendela dibuka sambil memanggil pria tersebut.

Namun seolah-olah tak menyadari kehadiran kami, pria itu tetap asyik dengan hal yang dilakukannya. Bahkan ketika saya mencoba menyalakan klakson ia masih tidak menoleh. Akhirnya kami semakin mendekat dan tanpa sengaja ia melihat ke arah kami sambil menggerakkan tangannya seolah mempersilahkan kendaraan kami maju.

Kami melempar senyum, kemudian Faro menyodorkan box nasi yang disambut dengan senyum dan anggukan kepala tanda berterima kasih. Raut mukanya nampak sumringah tatkala menerima nasi box tersebut. Rupanya pria itu penyandang disabilitas yang tak dapat berbicara dan mendengar.

Kegiatan berbagi makanan yang diinisiasi oleh istri ini biasa dilakukan hari Jumat selepas pulang kantor. Tapi kadang dilakukan diakhir pekan juga. Selain sebagai bentuk kepedulian sosial dan bersedekah, melibatkan anak-anak dalam aktivitas ini diharapkan dapat menumbuhkan jiwa berbagi dan rasa empati mereka. Sejatinya, praktek langsung lebih membekas dalam proses pembelajaran.