Tidak seperti biasanya, Kukupih berada di luar pagar melepas kepergian kami. Saya sempat berseru ke Faro, “Aa, lihat! Kukupih ada di pinggir jalan,” kata saya sambil menunjuk ke arah Kukupih.

Kukupih menatap ke kendaraan yang kami tumpangi. Dia duduk manis dengan sorot mata yang nampak datar. Warnanya yang kuning halus mendekati jingga tua membuatnya sering dipanggil harimau ngantuk. Kata ngantuk disematkan karena kebiasannya ketika selesai makan langsung tiduran leye-leye yang membuat iri penghuni rumah.

Kendaraan kami pun melaju perlahan meninggalkan rumah diiringi tatapan Kukupih. Perjalanan kali ini selama dua hari dengan mengunjungi rumah orangtua yang berbeda kabupaten. Hingga akhirnya saat kembali ke rumah tiba di Minggu malam. Tidak lupa, istri membawa oleh-oleh sisa kepala ikan untuk Kukupih.

Keremangan malam menyelimuti jalan di depan rumah. Penerangan lampu yang berada di sudut kanan, persis di depan pagar samping tidak kuasa membuat jalan yang hanya dapat dilintasi satu mobil dan motor ini terang benderang. Suasana sepi, padahal angka jam di telepon genggam masih menujuk ke angka 20.05.

Begitu pun, biasanya Kukupih sudah berlari sambil mengeong naik ke atas pilar pagar sebagai bentuk penyambutan. Kini tidak ada, sepi. Saya tidak berpikir panjang, mungkin Kukupih sedang main di rumah tetangga depan atau ke si Jorce, kucing tetangga di sudut jalan yang berkalung lonceng.

Semua sudah turun dan masuk ke rumah, tinggal saya yang memarkir kendaraan diteras samping. Ketika membuka pintu, sekelebatan mata ini melihat warna putih seperti batang di bawah motor yang terparkir di samping mobil. Tadinya tidak menghiraukan, tapi menjadi penasaran juga hingga akhirnya turun dari mobil dan membungkuk. Kaki kanan menyentuhnya, “Astaghfirullah, kaki kucing.” Gumam saya.

“Kupih, Kupih…bangun. Jangan tidur mulu,” ujar Saya seperti biasa kalau ngusulin Kukupih. Tapi kucing kuning itu tidak bergerak sama sekali, tidur menyamping persis di bawah mesin motor. Penasaran, kaki kanan menyentuh kembali, kali ini agak keras untuk menggesernya. Tapi, keras. Ketika terdorong semua badannya ikut bergerak terdorong, kaku.

“Innalillahi, kenapa kamu Kukupih?” pertanyaan retorik setengah tidak percaya dengan yang terjadi. Kukupih telah terbujur kaku. Tidak ada tanda-tanda luka di tubuhnya.

Kepergian Kukupih selamanya ini membuat sedih penghuni rumah. Tidak ada lagi harimau ngantuk yang kadang menyebalkan, tapi juga menghibur. Tidak ada lagi yang menunggu di depan pintu ketika hendak berangkat Sholat Subuh ke masjid.

Kini Kucing Kuning Putih yang kami singkat menjadi nama Kukupih ini telah pergi untuk selamanya. Masih terekam dalam ingatan, bagaimana aksi heroiknya kala menghalau ular pucuk yang nyelonong ke teras rumah. Aksi capernya pun sering menghibur kami, berlari kencang kemudian memanjat pohon rambutan hingga ke atas. Selamat jalan Kukupih.