Peci hitam memiliki makna khusus dalam kehidupan saya. Lahir dan dibesarkan di lingkungan NU, atribut peci hitam ini seolah-olah identik dengan kalangan santri. Jauh sebelumya, Proklamator Kemerdekaan RI Ir. Soekarno menyebut peci sebagai “ciri khas saya… simbol nasionalisme kami.” Sukarno kemudian mengkombinasikan peci dengan jas dan dasi. Menurutnya, ini untuk menunjukkan kesetaraan antara bangsa Indonesia (terjajah) dan Belanda (penjajah). Peci kemudian menjadi simbol nasionalisme, yang mempengaruhi cara berpakaian kalangan intelektual.

Semasa kecil, saya paling bangga ketika almarhum Bapak membelikan saya peci hitam dengan merek BHS. Agak besar, peci hitam saya berganti merek ke H. Iming. Dan sekarang, saya senang menggunakan peci hitam merek Mata.

Dalam beberapa kesempatan ini, sejak ramadhan ke kantor pun saya menggunakan peci hitam. Bukan apa-apa, potongan rambut saya biasa pendek dengan ukuran satu senti. Masa pandemic covid-19 memaksa saya tidak mendatangi tukang pangkas rambut dengan alasan social distancing. Alhasil, rambut mulai menggondrong dan tidak beraturan. Salah satu solusinya adalah menutupnya dengan peci.

Masih tentang peci hitam, ada pengalaman yang pasti selalu diingat. Kala itu didaulat untuk memerankan palang pintu ala Si Pitung dalam pembukaan Porseni BUMN. Yang hadir saat itu Bu Menteri BUMN Rini Sumarno bersama para dirut BUMN. Dengan dandanan peci di kepala, sarung melilit di leher dan celana hitam, saya pun beraksi bersama rekan Humas dari Pegadaian Pak Bas. Berbalas pantun pun terjadi yang diiringi dengan aksi silat dari salah satu deputi Kementerian BUMN dan Dirut perusahaan pupuk.

Sempat berganti-ganti jenis peci, akhirnya saya lebih memilih menggunakan peci hitam ini hingga sekarang.