Sering sekali kita berada dalam posisi tidak dapat memilih team.  Baik dalam pekerjaan, organisasi ataupun sebuah kepanitiaan.  Kita dihadapkan pada posisi dipaksa untuk meracik team yang ada sehingga  menjadi the dream team, atau setidaknya menjadikannya team yang dapat memberikan kontribusi terhadap target yang lebih besar.

Ada beragam reaksi dalam menghadapi situasi seperti ini.  Alih-alih menggerutu, lebih baik kita berusaha mengoptimallkan potensi yang ada di team.  Justru disinilah letak seninya, seperti sedang bermain puzzle sehingga tersusun gambar yang utuh. Lalu bagaimana menyikapinya?

Pertama, pastikan tujuan akhir  (goals) atau misi tersampaikan dengan baik.  Hal ini penting untuk memastikan semua team bergerak ke arah yang sama.  Coba bayangkan, ibarat mendayung perahu ke arah yang berbeda, akhirnya ‘pabetot-betot’ sehingga perahu tidak akan sampai ke tujuan.

Kedua, kenali secara cepat potensi anggota team.  Seringnya, mereka datang dengan label yang sudah melekat pada diri mereka.  Si A itu orangnya bossy,  Si B itu susah diajak kerjasama dan seabrek label negatif lainnya.  Tapi yakinlah, setiap anggota team pasti memiliki sisi positifnya, dan bisa jadi label negatif itu tidak seluruhnya atau belum tentu benar.

Ketiga, beri misi yang sesuai.  Setelah melakukan mapping personil seperti point 2 di atas.  Berilah anggota team tugas yang sesuai ‘keahlian’ mereka.  Contoh kasus, ketika saya terlibat dalam kepanitiaan event lintas perusahaan. Setelah melakukan menyelidikan cepat potensi anggota team, selanjutnya saatnya trial.  Si A diberi tugas bidang media karena kuat dari sisi penulisan, Si B bagian multimedia karena memiliki basic IT dan hobi di bidang tersebut, Si C bagian acara karena suka koordinasi sana-sini, Si D kasih tugas ngemsi karena sudah punya pengalaman di situ, dan seterusnya.  Alhasil jadilah team yang saling melengkapi satu sama lain.  The right man on the right place.

Keempat, lakukan coaching.  Dalam beberapa kesempatan, terdapat anggota team yang betul-betul harus didampingi dari awal.  Jangan bosan untuk memberikan briefing dan feedback.  Contoh kasus ketika memberikan materi Corporate Identity (CI), itu tidak dapat langsung jadi.  Sekali dua kali masih menabrak, tapi lama kelamaan akan terbiasa mengenali rambu-rambu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Saya sendiri memiliki pengalaman ketika mentor memberikan coaching, terasa betul manfaatnya.  Memang dalam prakteknya, metode coaching ini beragam caranya.  Mulai dari diberikan setumpuk pekerjaan berdeadline hingga pekerjaan yang dituntut kreativitas tingkat tinggi.

Pernah suatu ketika ditugaskan untuk membuat flyer produk yang belum pernah dibuat sama sekali untuk dipromosikan. Karena memang barangnya belum pernah ada.  Disinilah saya menghadapi ‘benturan’ dengan bagian yang lain dengan berbagai argumentasinya.  Tetapi  tugas tetap tugas dan harus selesai, kombinasi imajinasi dan negosiasi akhirnya membawa hasil pada akhirnya.

Secara rutin saya melaksanakan NGOPI ITEM (Ngobrol Pintar Inspirasi Teman) bersama team.  Diskusi beragenda yang harus selesai dalam waktu 30 menit saja setiap Senin, Rabu dan Jumat pagi.  Sesuai judul acaranya, maka anggota team banyak memberikan pendapatnya.  Dan itu menarik, karena banyak ide-ide segar, terutama dari anak-anak milenial.