Setiap memasuki bulan ketujuh kalender masehi, kuping saya sering terasa panas.  Nama saya banyak sekali disebut oleh orang-orang dalam berbagai urusan.  Maklum, nama depan saya sama dengan nama di bulan ketujuh.

Saya sempat juga mencari tahu kenapa orangtua memberi nama seperti nama saya saat ini.  Tidak ada jawaban soheh karena orangtua keduanya telah almarhum.  Namun, jawaban yang paling populer adalah karena saya lahir di bulan Juli, dan saya orang sunda sehingga nama menganut model pengulangan menjadi Juli Jajuli.  Model pengulangan ini juga ternyata ada pada nama ibu dan bapak saya.

Alhasil, orang yang baru bertemu dengan mudah menebak bulan kelahiran saya, “Pasti lahirnya bulan Juli ya? Lain lagi dengan nama dosen pemasaran saya pas kuliah:  Agustinus Februadi, orang masih bisa salah antara bulan Agustus atau Februari.

Seiring perjalanan waktu, untuk menegaskan model pengulangan nama saya, maka ditambahkan sekalian menjadi:  Juli Jajuli Sejulijulinya (JJS) yang berarti Juli Banget.  Dan nama Kang JJS ini menjadi panggilan karib saat ini dan sering membuat orang tersenyum begitu tahu kepanjangannya.

PEPATAH poluler mengatakan apalah arti sebuah nama?, yang ternyata diambil dari cuplikan dialog dalam novel romantis Romeo dan Julliet karya William Shakespeare. Dalam dialog tersebut Julliet mengatakan nama tidak akan mengubah siapa dia, apalah arti sebuah nama apabila nama itu menimbulkan perselisihan.

Nah, ungkapan ini apabila ditinjau dari sisi syariat, tidaklah sepenuhnya benar. Mengapa? Karena agama Islam memandang nama adalah suatu hal yang penting dan terkait dengan beberapa hukum baik di dunia maupun di akhirat.

Contohnya: panggilan nama seseorang di dunia adalah panggilannya kelak di akhirat, sehingga apabila ada orang yang namanya jelek atau kurang indah di dunia, maka itulah nama yang ia dipanggil di akhirat kelak. Terlebih lagi dia ridha dan senang dengan panggilan seperti itu

Rasullullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎‏ ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﺗُﺪْﻋَﻮْﻥَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺑِﺄَﺳْﻤَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺳْﻤَﺎﺀِ ﺁﺑَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَﻛُﻢْ

“Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian” [HR. Abu Dawud & Al-Baihaqi, Sebagian ulama menilai sanadnya munqathi’, Sebagian menilai sanadnya jayyid]

Di balik nama itu terkandung visi, doa dan harapan.  Dan kalau kita cermati nama anak-anak zaman now, namanya indah dan biasanya sudah tersusun dalam tiga kata.  Seperti halnya saya menyematkan nama untuk anak, ada doa dibaliknya.  Anak pertama mengandung makna wanita yang memiliki rasa malu perhiasan wali Allah.  Anak kedua seorang pemaaf dan terdepan meraih kemenangan. Dan anak ketiga penuh kemuliaan seperti Nabi Ibrahim.  

Tulisan lainnya ada di http://seruputkopipanas.com