Pagi itu, jarum pendek jam dinding menunjuk nyaris ke angka enam di bagian bawah. Sementara jarum panjangnya sudah mendekat ke angka dua belas di atasnya. Jarum detik tipis berwarna merah dengan santai namun pasti berputar seolah sedang thowaf dengan arah berlawanan. Thowaf mengelilingi ka’bah mengikuti arah putaran bumi dan berlawanan dengan arah jarum jam. Entah sudah berapa ribu putaran jarum itu berputar.

Telepon seluler berwarna putih kecil besutan pabrikan Amerika berbunyi. Panggilan datang dari seorang kawan yang tinggal di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia, Jakarta. Setelah saling bertegur sapa tentang kabar masing-masing, tibalah pada inti maksud ia menelepon. Ia menyampaikan pesan dari tamu yang pernah mendapatkan souvenir yang bahannya dirasa kurang enak ketika dipakai. Cukup lama menyimak cerita tentang keluhan tamu tersebut tanpa banyak menyela hingga akhirnya kesimpulan didapat.

Menerima kritik, nama lain dari masukan, adalah hal yang istimewa. Beberapa kawan bahkan kerap menjadi langganan sebagai kritikus atas program yang diluncurkan. Cara penyampaiannya pun beragam, ada yang sambil bergurau, bahkan hingga dengan nada ketus dan nyinyir ala-ala netizen +62 kebanyakan. Hal ini merupakan hal yang istimewa, mereka mau menyampaikan kritiknya langsung tanpa harus bicara sana-sini hingga suasana menjadi keruh. Kenapa mereka mau seperti itu?

Rupanya cara penerimaan kita terhadap sebuah kritik yang menentukan. Ketika kritik disikapi dengan berlapang dada, ia akan serenyah keripik yang enak dikunyah. Pertama, berbaik sangka bahwa kritikus itu berniat baik untuk memberikan masukkan sehingga program berikutnya lebih baik. Kedua, simak dan dengarkan hingga celotehannya selesai tanpa harus banyak menyela. Ketiga, ucapkan terima kasih atas kritikannya. Keempat, jika suatu saat masukkan dari kritikus itu direalisasikan, jangan sungkan untuk mengabarinya seraya berterima kasih kembali.

Namun, dalam beberapa kesempatan, kadang dihadapkan juga dengan kritikan yang sebenarnya masukannya itu sudah pernah dilaksanakan dan tidak berhasil. Untuk hal ini, tetaplah berterima kasih. Mereka ini adalah aset berharga yang mau berepot-repot untuk kita. Jadikanlah kritik serenyah keripik.