Dua pekan terakhir tiba-tiba menjadi waktu yang terasa sangat padat oleh saya. Tensi pekerjaan mulai meninggi alias sudah normal kembali. Persiapan tahun ajaran baru anak sekolah juga memerlukan perhatian ekstra. Satu anak masuk SD dan anak sulung masuk pesantren. Sementara itu beberapa deadline pun menghampiri, diantaranya menyelesaikan dua majalah yang harus terbit beriringan.

Semangat sempat meredup karena kehilangan mood. Materi yang masuk pun tak tersentuh, hanya selesai dilihat saja. Benak pun berpikir, sudahlah pasti terlambat nih.

Rupanya, jiwa ini memerlukan nutrisi semangat. Kalau sudah begini, tausiyah ala Ustadz Hanan Attaki yang diputar di Youtube. Penuturannya yang mengalir, kadang serius kadang banyol seperti membuat pikiran ini menjadi lebih rileks. Dan yang paling penting adalah bab tauhidnya, menyandarkan segala sesuatu kepada Allah SWT.

Berbekal keyakinan, dengan izin Allah melalui sokongan team akhirnya deadline-deadline itu dapat diraih. Salah satunya saya coba dengan menggunakan metode yang didapat dari pelatihan magnet rezeki-nya Ustadz Nashrullah, LOP atau Law of projection.

Dalam pikiran disetting keyakinan bahwa pasti selesai, pasti selesai, pasti selesai. Dan tidak sampai di situ, tapi dikerjakan juga dengan semangat yang lebih segar seolah batu penghalang berupa mood itu sudah tidak ada lagi. Mengalir, perlahan tapi pasti.

Nasib kita ditentukan oleh fikiran kita sesuai cara kerjanya sebuah proyektor. Laptop-proyektor-layar. Apa yang ada di layar pastilah sama dengan laptop. Fikiran-otak-nasib. Nah, dalam kehidupan kita yang bertindak sebagai laptopnya adalah fikiran, dan layarnya adalah nasib kita sekarang ini. Nasib bisa langsung berubah dengan mudah hanya dengan switch atau mengubah fikiran kita.

Selain rasa syukur kepada Allah SWT atas terselesaikannya project sesuai deadline, rasanya tidak berlebihan jika dirayakan dengan secangkir kopi panas sebagai pelumas supaya ide-ide segar kembali bermunculan.